Seperti biduk yang terhempas pada karang dan pecah berantakan. Seperti itu juga hatiku jatuh berantakan ke tanah menjadi berkeping – keping begitu aku melihat kekasihku berciuman bukan denganku. Seketika itu juga aku langsung berjongkok ke tanah memunguti potongan – potongan hatiku yang berserak. Dengan tersedu – sedu aku memasukkan potongan –potongan hatiku ke dalam sebuah toples kue yang terbuat dari kaca. Tidak lama kemudian Hani sahabatku datang tergopoh – gopoh begitu aku mengabarkan melalui telepon, tentang potongan - potongan hatiku yang sekarang berada dalam sebuah toples kue. Hani membawa selembar kertas dan sebatang pensil, padahal aku meminta untuk dibawakan satu botol bir dan sebungkus rokok.
“Ayo kita susun kembali, potongan – potongan hatimu”, Hani terlihat begitu cemas melihat aku tersedu – sedu memandangi sebuah toples yang dipenuhi potongan – potongan hati.
Pada sebuah kertas Hani menggambar sebuah bentuk hati dengan ruangan kosong di tengahnya.
“Nah, sekarang harus kamu sendiri yang harus menyusun potongan hatimu.
Hani mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ranselnya. Sebotol bird an sebungkus rokok. Aku langsung menyambarnya sebelum Hani memberikannya kepadaku. Dengan gigiku aku membuka botol bir dan langsung menenggaknya seperti meminum Aqua. Kemudian tanganku merobek bungkus rokok milik Hani dan mencari – cari pemantik di kantong tas Hani. Dua batang rokok langsung kunyalakan dan kuhisap.
Hani membiarkanku saja. Dan tidak berkata – kata lagi ketika aku mengeluarkan pisau lipatku dan melemparkannya pada foto kekasihku yang tersenyum manis di dinding. Aku lempar senyum manis kekasihku dalam lembaran foto dengan pisau layaknya seorang pemain lempar pisau dalam arena sirkus. Begitu berulang kali sampai akhirnya pisauku patah menjadi dua.
“Kalau sudah, ayo hatimu disusun di sini.”
Kali ini aku menuruti ajakan Hani. Aku jongkok dan mengambil potongan hatiku, satu demi satu. Aku ingat saat masih duduk di bangku TK saat merangkai potongan – potongan gambar Donal Bebek. Aku menjadi bersemangat sekali merangkai hatiku. Sambil menyusun kembali potongan hatiku aku berdeklamasi di samping Hani yang sedang mengunyah – ngunyah rokok.
HATIKU HANCUR BERANTAKAN
BERANTAKAN HATIKU HANCUR
KARENA KAMU DURJANA
DURJANA KARENA KAMU
Aku terus berdeklamasi hingga seperti seorang dukun yang sedang merapal mantra. pellet. Sampai nyonyor bibirmu dan deklamasiku langsung terhenti ketika aku menyadari potongan hatiku kurang satu
“Potongan hatiku kurang satu !” Aku berteriak histeris melihat potongan hatiku kurang satu.
Potongan – potongan hati yang aku susun sambil berdeklamasi hampir selesai, tetapi masih kurang satu potong. Aku histeris melihat hatiku yang hampir jadi terlihat belum genap. Hatiku yang hampir jadi itu terlihat mengucurkan darah, aku semakin histeris. Hani mengambil Hansaplast dan memasangnya di potongan hatiku yang berdarah.
Aku mencari potongan hatiku yang hilang di lantai. Sambil tiarap di lantai dan membawa kaca pembesar aku mencari potongan hatiku. Di bawah meja, di bawah lemari, di bawah keset, hingga ke tempat sampah plastik di samping rumah. Siapa tahu ikut tersapu saat aku memungutinya tadi. Aku semakin bingung mencari potongan hatiku. Dan Hani menyarankan agar hatiku dimasukkan ke dalam Frezeer, agar tidak lekas busuk.
Hani mengajakku jalan – jalan. Aku menolaknya karena tidak mungkin aku bepergian dan meninggalkan hatiku di dalam kulkas. Tetapi Hani terus memaksa.
“Ayolah, kita jalan – jalan. Sekalian antarin aku cuci darah. “ Hani setengah menyeretku.
Aku tidak menolak lagi. Hari ini memang jadwal Hani cuci darah di rumah sakit. Biarlah sekali – kali aku jalan – jalan tanpa membawa hatiku. Hatiku pasti aman di dalam kulkas.
****
Di depan rumah sakit, Hani menyempatkan diri membeli tabloid kuliner.
“Nih, menu kulineran terbaru ala antah berantah , Gulai hati & keripik hati.” Hani mengomentari rubric kulineran di Tabloid dan menunjukannya kepadaku. Aku langsung merinding teringat potongan hatiku yang tersimpan di kulkas. Aku mual mual dan muntah di Lobby rumah sakit.
Aku menunggu Hani cuci darah di taman Rumah sakit. Sialan lama sekali. Hari terasa panas sekali di kulitku. Untung aku sudah memakai hand body sebelum berangkat.