BUNGA LOVE DODDY











{July 5, 2008}   akhirnya ke jogja tercinta

akhirnya kembali ke jogja tercinta setelah press tour bersama wartawan kepatihan ke lapindo & bromo.

perjalanan yang padat dan melelahkan. tapi terbayarkan dengan memandang keindahan negeri di awan bromo.

uh besok lah ku buat ceritaku di lapindo dan bromo



{July 1, 2008}   menuju bromo

ku kan menggapaimu

mencumbui lautan pasirmu

memandang bangunnya mentari

bromo tengger semeru



{July 1, 2008}   trus kenapa kalo sebel

snake snake where are you ?



the first day rollingan to GK, ku naik naik ke puncak gunung, lebih tepatnya bukit tandus di temon giripurwo gunungkidul. jauh sekali. melalui siluk bantul sekitar 2 jam baru sampai ke lokasi. yeah..jadi malu banget ketika tim kami datang langsung disambut pakai pengeras suara. beda banget ma liputan di kota yang penat banget.

liputan di dusun yang sangat kekeringan dengan begitu parahnya menjadi pengalaman tersndiri. orang – orang dusun yang apa adanya dan bersahaja. apalagi ketika aku kebelet banget pipiz..duh sampai gemetar.dengan aksi nekat ku numpang di tempat warga, eh dikasih air setengah ember.ya memberi setengah ember air yang sangat berarti bagi mereka.ketika telaga telaga mulai mengering dan air pun harus dibeli dengan begitu mahalnya. seorang bapak tua memberikan air dengan begitru ikhlasnya, bahkan kalau kurang pun akan ditambah.

air yang begitu berharga, mereka berikan. ku begitu tersentuh. tak mungkin bila ini ikhlas dilakukan warga perkotaan yang lebih mementingkan kepentingan diri sendiri.

besok liputan tentang ketahan pangan. just wait n see. ku pengen istirahat setelah bete yernyata liputanku telah diperdagangkan oleh salah sato orang kantor. aku sungguh marah dan bete.



{June 30, 2008}   wanna be a bad writer…

i  wanna out from this boring job,

i wanna be a bad writer



{June 30, 2008}   ke manakah hatiku ?

bila hari kemarin aku menuliskan tentang potongan hatiku yang hilang dan belum ketemu, pada hari aku menuliskan tentang hatiku yang tengah merasa begitu benci pada dunia. ketika seorang teman menanyakan padaku : hey yu ! perlu peta GK ga?

Ngapain banget tu anak nyonyor kayak gitu. Di amna pu  aku berada. liputan di mana pun ku bakal baik- baik saja. Memang sih sudah lama banget aku tidak ada akses liputan ke situ. But kenapa juga sih dirolling – rolling, mana aku bakal di tempattin nun jauh di daerah tandus bernama Gunung Kidul ? Gimana ga bete? But bye the way ku bakal baik baik saja.

Benarnya ku pingin banget keluar dari tempat aku bekerj, apalagi kalau pas lagi bete kayak gini. just wanna out baby. Pengen nya sih dari rumah jadi wartwan freelance, nulis – nulis novel, & masakin buat suami tersayang. But baby, kondisi perekonomian saat ini begitu sulit. God please take care of us. Usaha suami juga belum jalan. ( Suami pengen buka sebuah toko kelontong  alias dagang aja ). Juga kayaknya mesti nunggu kreditan BRI lunas sampai tahun depan. Oh God feels lika hells. I hope everything is gonna be allright. Me n my husband. N selalu dimudahkan pintu rejeki untuk kami.

By the way, I want a baby like my friend Ambar.



{June 30, 2008}   bete

begitu bete aku hari ini.

pikiranku kusut seperti benang yang jatuh terjerat jerat tiada teratur.

but

i will be fine.



{June 28, 2008}   HATI

Seperti biduk yang terhempas pada karang dan pecah berantakan. Seperti itu juga hatiku jatuh berantakan ke tanah menjadi berkeping – keping begitu aku melihat kekasihku berciuman bukan denganku. Seketika itu juga aku langsung berjongkok ke tanah memunguti potongan – potongan hatiku yang berserak. Dengan tersedu – sedu aku memasukkan potongan –potongan hatiku ke dalam sebuah toples kue yang terbuat dari kaca. Tidak lama kemudian Hani sahabatku datang tergopoh – gopoh begitu aku mengabarkan melalui telepon, tentang potongan - potongan hatiku yang sekarang berada dalam sebuah toples kue. Hani membawa selembar kertas dan sebatang pensil, padahal aku meminta untuk dibawakan satu botol bir dan sebungkus rokok.

“Ayo kita susun kembali, potongan – potongan hatimu”, Hani terlihat begitu cemas melihat aku tersedu – sedu memandangi sebuah toples yang dipenuhi potongan – potongan hati.

Pada sebuah kertas Hani menggambar sebuah bentuk hati dengan ruangan kosong di tengahnya.

“Nah, sekarang harus kamu sendiri yang harus menyusun potongan hatimu.

Hani mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ranselnya. Sebotol bird an sebungkus rokok. Aku langsung menyambarnya sebelum Hani memberikannya kepadaku. Dengan gigiku aku membuka botol bir dan langsung menenggaknya seperti meminum Aqua. Kemudian tanganku merobek bungkus rokok milik Hani dan mencari – cari pemantik di kantong tas Hani. Dua batang rokok langsung kunyalakan dan kuhisap.

Hani membiarkanku saja. Dan tidak berkata – kata lagi ketika aku mengeluarkan pisau lipatku dan melemparkannya pada foto kekasihku yang tersenyum manis di dinding. Aku lempar senyum manis kekasihku dalam lembaran foto dengan pisau layaknya seorang pemain lempar pisau dalam arena sirkus. Begitu berulang kali sampai akhirnya pisauku patah menjadi dua.

“Kalau sudah, ayo hatimu disusun di sini.”

Kali ini aku menuruti ajakan Hani. Aku jongkok dan mengambil potongan hatiku, satu demi satu. Aku ingat saat masih duduk di bangku TK saat merangkai potongan – potongan gambar Donal Bebek. Aku menjadi bersemangat sekali merangkai hatiku. Sambil menyusun kembali potongan hatiku aku berdeklamasi di samping Hani yang sedang mengunyah – ngunyah rokok.

HATIKU HANCUR BERANTAKAN

BERANTAKAN HATIKU HANCUR

KARENA KAMU DURJANA

DURJANA KARENA KAMU

Aku terus berdeklamasi hingga seperti seorang dukun yang sedang merapal mantra. pellet. Sampai nyonyor bibirmu dan deklamasiku langsung terhenti ketika aku menyadari potongan hatiku kurang satu

“Potongan hatiku kurang satu !” Aku berteriak histeris melihat potongan hatiku kurang satu.

Potongan – potongan hati yang aku susun sambil berdeklamasi hampir selesai, tetapi masih kurang satu potong. Aku histeris melihat hatiku yang hampir jadi terlihat belum genap. Hatiku yang hampir jadi itu terlihat mengucurkan darah, aku semakin histeris. Hani mengambil Hansaplast dan memasangnya di potongan hatiku yang berdarah.

Aku mencari potongan hatiku yang hilang di lantai. Sambil tiarap di lantai dan membawa kaca pembesar aku mencari potongan hatiku. Di bawah meja, di bawah lemari, di bawah keset, hingga ke tempat sampah plastik di samping rumah. Siapa tahu ikut tersapu saat aku memungutinya tadi. Aku semakin bingung mencari potongan hatiku. Dan Hani menyarankan agar hatiku dimasukkan ke dalam Frezeer, agar tidak lekas busuk.

Hani mengajakku jalan – jalan. Aku menolaknya karena tidak mungkin aku bepergian dan meninggalkan hatiku di dalam kulkas. Tetapi Hani terus memaksa.

“Ayolah, kita jalan – jalan. Sekalian antarin aku cuci darah. “ Hani setengah menyeretku.

Aku tidak menolak lagi. Hari ini memang jadwal Hani cuci darah di rumah sakit. Biarlah sekali – kali aku jalan – jalan tanpa membawa hatiku. Hatiku pasti aman di dalam kulkas.

****

Di depan rumah sakit, Hani menyempatkan diri membeli tabloid kuliner.

“Nih, menu kulineran terbaru ala antah berantah , Gulai hati & keripik hati.” Hani mengomentari rubric kulineran di Tabloid dan menunjukannya kepadaku. Aku langsung merinding teringat potongan hatiku yang tersimpan di kulkas. Aku mual mual dan muntah di Lobby rumah sakit.

Aku menunggu Hani cuci darah di taman Rumah sakit. Sialan lama sekali. Hari terasa panas sekali di kulitku. Untung aku sudah memakai hand body sebelum berangkat.



{March 28, 2008}   sweety cutie

harimau_kecil.jpg so funny n cuteee…



{March 28, 2008}   bloody hell miz u

bloodyyyy hellll missss u sayangku

berdebar menunggumu

di sini

sampainya kita di depan mahligai

milik kita



et cetera